1 Pengertian Adaptasi. Salah satu ciri yang membedakan makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup adalah kemampuan adaptasi. Kondisi lingkungan menentukan jenis makhluk hidup pada tempat tersebut, misalnya burung yang memiliki sayap dapat dengan mudah terbang dan berpindah tempat, ikan yang hidup di air dapat bernafas karena adanya insang, kaktus dapat hidup dengan baik pada suhu ekstrem karena
PemerintahDesa adalah Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dibantu perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Desa. 9. Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 10.
prosesadaptasi cahaya (light adaptation process) pada kondisi alami dilakukan melalui pengamatan posisi sel kon (c one cell) dan pigment. Pengamatan proses adaptasi mata ikan terhadap cahaya dilakukan setiap waktu hauling (Hauling I pukul .22.00 sebelum tengah malam; Hauling II pukul 00.2.00 dini hari dan Hauling III pukul 00.5.00 setelah
Adaptasiadalah Penyesuaian diri terhadap lingkungan Adaptasi adalah munculnya karakteristik baru agar paling sesuai dengan perubahan lingkungan atau habitat. Semua adaptasi telah melalui seleksi alam dan hanya perubahan yang paling sesuai yang dipilih. Selain itu, adaptasi akan muncul di tingkat fenotipik di bawah pengaruh faktor lingkungan
Lingkunganternak dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu (1) lingkungan abiotik (2) lingkungan biotik. Lingkungan abiotik meliputi semua faktor fisik dan kimia. Lingkungan biotik merupakan interaksi diantara (perwujudan) makanan, air, predasi, penyakit serta interaksi sosial dan seksual. Faktor lingkungan abiotik
Adayang mempunyai toleransi yang besar terhadap perubahan suhu, disebut bersifat euryterm. Sebaliknya ada pula yang toleransinya kecil, disebut bersifat stenoterm. Perubahan suhu yang besar dan mendadak jelas dengan nyata mempengaruhi adaptasi Ikan, Ikan yang diaklimasikan ke suhu yang dingin akan berenang lebih cepat (Campbell. 2002; 294
zQcUaPC. 12+ Cara Proses Adaptasi Ikan Terhadap Lingkungan Disebut Terbaru. Memiliki konsentrasi garam yg tinggi dlm darahnya. Sehingga memperlambat proses penguapan air dan bertahap hidup dalam kondisi lingkungan yang. Untuk mengurangi pengaruh buruk dari. waktu dan tempat praktikum. Adaptasi ikan air laut urine yang dihasilkan mengandung konsentrasi air yang Dari Science Encyclopedia, Tingginya Konsentrasi Ini Biasanya Tidak Terlihat Oleh Orang Adaptasi Ikan Terhadap Adaptasi Ikan Terhadap Garis Besar Ada 3 Cara Hewan Dan Tumbuhan Meneruskan Kelangsungan Hidupnya, Yaitu Praktikum Pengaruh Lingkungan Terhadap Ikan Kali Ini Dilaksanakan Pada Hari Rabu Tanggal 6 April 2011 Pukul Wib Sampai Dari Science Encyclopedia, Tingginya Konsentrasi dari 12+ Cara Proses Adaptasi Ikan Terhadap Lingkungan Disebut Terbaru. Selamat datang di web digital berbagi ilmu. Berdasarkan hukum van’t hoff, kenaikan suhu sebesar 10°c akan. Adaptasi ikan air laut urine yang dihasilkan mengandung konsentrasi air yang tinggi. Adaptasi ikan air laut urine yang dihasilkan mengandung konsentrasi air yang tinggi. Adaptasi fisiologis adalah cara makhluk hidup menyesuaikan diri terhadap lingkungan melalui fungsi kerja organ tubuh dengan tujuan bertahan hidup. Adaptasi makhluk hidup terhadap lingkungan. Adaptasi adalah penyesuaian tertentu pada diri makhluk hidup, yang membantunya hidup di tempat atau lingkungan tertentu. a beradaptasi dengan lingkungan dan habitatnya, b menjalani proses seleksi alam, dan c. Secara Garis Besar Ada 3 Cara Hewan Dan Tumbuhan Meneruskan Kelangsungan Hidupnya, Yaitu Adapun ikan air laut hidup di lingkungan dengan salinitas tinggi kadar garam tinggi. Praktikum Pengaruh Lingkungan Terhadap Ikan Kali Ini Dilaksanakan Pada Hari Rabu Tanggal 6 April 2011 Pukul Wib Sampai Dengan. Secara garis besar ada 3 cara hewan dan tumbuhan meneruskan kelangsungan hidupnya, yaitu Disadur Dari Science Encyclopedia, Tingginya Konsentrasi Garam. Cara adaptasi ikan air laut Kesimpulan dari 12+ Cara Proses Adaptasi Ikan Terhadap Lingkungan Disebut Terbaru. Untuk mengurangi pengaruh buruk dari. Salah satu ciri makhluk hidup adalah dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. tunas pada padi bebek,dan lombok dan sanseviera adalah peleburan sel kelamin jantan dan.
Penampilan fenotipe suatu organisme ditentukan oleh faktor genotipe dan faktor lingkungan tempat organisme tersebut hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari daya adaptasi tiga spesies ikan patin yang dipelihara di lokasi berbeda. Ikan patin siam, patin jambal, dan patin pasupati dengan rataan bobot 20 g dipelihara di tiga lokasi yang berbeda, yaitu kolam air tenang, tambak, dan keramba jaring apung. Pemeliharaan ikan dilakukan selama empat bulan. Selama pemeliharaan, ikan diberi pakan berupa pelet komersial dengan kadar protein 30%–32%. Jumlah pakan yang diberikan pada bulan kesatu sampai keempat secara berturut-turut adalah sebanyak 5%, 4%, dan 3% dari biomassa ikan per hari. Pakan diberikan dengan frekuensi tiga kali sehari. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi yang signifikan antara genotipe ikan patin dengan lingkungan ekosistem yang berbeda dan daya adaptasi yang spesifik dari ketiga spesies ikan patin. Ketiga spesies ikan patin memiliki pertumbuhan sama bila dipelihara di kolam air tenang. Ikan patin jambal tumbuh dengan baik P0,05. Ketiga spesies ikan patin mempunyai daya adaptasi lingkungan yang sempit sehingga budidayanya akan optimal jika dilakukan di lokasi tertentu saja. The phenotypic appearance of an organism is determined by genotypes and environmental factors in which the organism lives. This study aims to study the adaptability of three species of pangasiids reared in three different environments. Three species of catfish Siamese pangasiid, jambal pangasiid, and pasupati with an average weight of 20 gwere kept in stagnant water pond, brackishwater pond, and floating net cage. Fishes were reared for four months. During the rearing, fish were fed by commercial pellets with 30%-32% protein content. The amount of feed given in the first month to the fourth month was 5%, 4%, and 3% of the biomass per day. Feed was given three times a day. The results showed the significant interaction between pangasiid genotype and environment, and specific adaptability on three species of pangasiid. Jambal pangasiid grew better in floating net cage SGR Pasupati pangasiid grew better in stagnant water pond SGR Siamese pangasiid grew better in stagnant water pond SGR and brackishwater pond SGR The three species of catfish have a narrow environmental adaptability so that the cultured will be optimal if done in a particular location. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Copyright 2017, Jurnal Riset Akuakultur, e-ISSN 2502-6534 253Jurnal Riset Akuakultur, 12 3, 2017, 253-261 Korespondensi Balai Riset Pemuliaan Ikan. Jl. Raya SukamandiNo. 2, Subang, Jawa Barat + 62 260 520500E-mail evitahapari online di ADAPTASI TIGA SPESIES IKAN PATIN PADA LINGKUNGAN YANG BERBEDAEvi Tahapari*, Jadmiko Darmawan*, Raden Roro Sri Pudji Sinarni Dewi*** Balai Riset Pemuliaan Ikan** Pusat Riset PerikananNaskah diterima 24 November 2017; Revisi final 28 Desember 2017; Disetujui publikasi 28 Desember 2017ABSTRAKPenampilan fenotipe suatu organisme ditentukan oleh faktor genotipe dan faktor lingkungan tempatorganisme tersebut hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari daya adaptasi tiga spesies ikan patinyang dipelihara di lokasi berbeda. Ikan patin siam, patin jambal, dan patin pasupati dengan rataan bobot20 g dipelihara di tiga lokasi yang berbeda, yaitu kolam air tenang, tambak, dan keramba jaring ikan dilakukan selama empat bulan. Selama pemeliharaan, ikan diberi pakan berupa peletkomersial dengan kadar protein 30%–32%. Jumlah pakan yang diberikan pada bulan kesatu sampai keempatsecara berturut-turut adalah sebanyak 5%, 4%, dan 3% dari biomassa ikan per hari. Pakan diberikan denganfrekuensi tiga kali sehari. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi yang signifikan antara genotipeikan patin dengan lingkungan ekosistem yang berbeda dan daya adaptasi yang spesifik dari ketiga spesiesikan patin. Ketiga spesies ikan patin memiliki pertumbuhan sama bila dipelihara di kolam air tenang. Ikanpatin jambal tumbuh dengan baik P0,05. Ketigaspesies ikan patin mempunyai daya adaptasi lingkungan yang sempit sehingga budidayanya akan optimaljika dilakukan di lokasi tertentu KUNCI ikan patin; genotipe; lingkungan; fenotipeABSTRACT Adaptability of three species of pangasiid in different environment. By Evi Tahapari, JadmikoDarmawan, and Raden Roro Sri Pudji Sinarni DewiThe phenotypic appearance of an organism is determined by genotypes and environmental factors in which theorganism lives. This study aims to study the adaptability of three species of pangasiids reared in three differentenvironments. Three species of catfish Siamese pangasiid, jambal pangasiid, and pasupati with an average weight of20 gwere kept in stagnant water pond, brackishwater pond, and floating net cage. Fishes were reared for four the rearing, fish were fed by commercial pellets with 30%-32% protein content. The amount of feed given in thefirst month to the fourth month was 5%, 4%, and 3% of the biomass per day. Feed was given three times a day. Theresults showed the significant interaction between pangasiid genotype and environment, and specific adaptability onthree species of pangasiid. Jambal pangasiid grew better in floating net cage SGR Pasupatipangasiid grew better in stagnant water pond SGR Siamese pangasiid grew better in stagnantwater pond SGR and brackishwater pond SGR The three species of catfishhave a narrow environmental adaptability so that the cultured will be optimal if done in a particular pangasius; genotype; environment; phenotypePENDAHULUANIkan patin merupakan salah satu komoditasprioritas air tawar yang dibudidayakan di patin termasuk ke dalam famili Pangasiidae,merupakan salah satu jenis ikan konsumsi air tawaryang bernilai ekonomis tinggi. Ikan patin banyakdiminati oleh masyarakat, terutama di Sumatera danKalimantan. Dari 25 jenis ikan patin yang ada, 14 jenisdi antaranya terdapat di Indonesia Gustiano et al.,2003. Beberapa jenis ikan patin sebagai ikan budidayasudah banyak dikenal di masyarakat, di antaranya adalahikan patin siam, patin jambal, dan patin pasupati. Ikanpatin siam memiliki karakter fekunditas yang tinggidan dagingnya berwarna merah. Ikan patin jambal 254 Copyright 2017, Jurnal Riset Akuakultur, e-ISSN 2502-6534Daya adaptasi tiga spesies ikan patin pada lingkungan yang berbeda Evi Tahaparimemiliki karakter warna daging yang putih sehinggamemenuhi standar kualitas ekspor, namunfekunditasnya rendah. Ikan patin pasupati merupakanikan patin hasil hibridisasi antara ikan patin siam betinadengan ikan patin jambal jantan, yang memilikikarakter warna daging putih serta dapat diproduksidalam jumlah besar seperti halnya ikan patin siamLRPTBPAT, 2006.Budidaya ikan patin dilakukan pada kondisilingkungan yang sangat beragam seperti ketinggianyang berbeda, kualitas air yang berbeda, dan sistemmanajemen budidaya yang berbeda. Kemampuanadaptasi ikan patin siam, ikan patin jambal, dan ikanpatin pasupati pada lingkungan yang berbeda selamaini belum diketahui sehingga perlu dilakukan kajianuntuk mengevaluasi adanya interaksi antara faktorlingkungan dan genotipe ikan patin. Pemahamantentang interaksi genotipe dengan lingkungandiperlukan untuk membantu proses identifikasigenotipe unggul. Cara yang umum digunakan untukmengenali genotipe ideal adalah dengan mengujiseperangkat genotipe atau varietas harapan padabeberapa lingkungan. Berdasarkan pada hasil analisisvariannya akan diketahui ada tidaknya interaksigenotipe dengan lingkungan GxE. Interaksi GxE dapatdigunakan untuk mengukur stabilitas suatu genotipeLin & Binns, 1988 karena stabilitas fenotipe padasuatu kisaran lingkungan tergantung dari besarnyainteraksi GxE. Jika tidak terjadi interaksi GxE, makapenentuan genotipe ideal akan sangat mudahdilakukan, yaitu dengan memilih genotipe-genotipeharapan dengan rata-rata hasil yang lebih tinggi. Namunapabila terjadi interaksi GxE, genotipe akan diuji diberbagai lokasi untuk mengukur kemampuan dayahasilnya yang berbeda pada setiap lokasi ini berarti juga hasil tertinggi suatu genotipe padasuatu lingkungan tertentu belum tentu memberikanhasil tertinggi pula pada lingkungan yang berbeda. Halyang demikian akan menyulitkan dalam pemilihangenotipe ideal yang beradaptasi dan stabil pada semualingkungan Perkins & Jinks, 1968.Penampilan yang diperlihatkan oleh suatu individudisebut fenotipe yang merupakan hasil ekspresi daripenampilan genotipe individu pada suatu lingkungantertentu dan interaksinya Falconer, 1989. Besarnyapengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan individudan adanya tanggapan dari tiap genotipe terhadapperubahan lingkungan memerlukan kajian khususmengenai interaksi genotipe x lingkungan. Kajianinteraksi genotipe x lingkungan telah banyakdipaparkan, antara lain oleh Yan et al. 2000. Macaminteraksi tersebut penting diketahui karena dapatmenghambat kemajuan seleksi dan mengganggupemilihan strain unggul dalam pengujian di lapanganEberhart-Russell, 1966 dan seringkali menyulitkanpengambilan kesimpulan secara akurat dalampercobaan varietas/genotipe dalam kisaran lingkunganyang luas Nasrullah, 1981.Penelitian ini bertujuan untuk mempelajariinteraksi antara faktor genotipe dengan lingkungan,dan daya adaptasi tiga spesies ikan patin yangdipelihara di tiga lokasi berbeda. Kegiatan penelitianmeliputi kegiatan pembesaran yang dilakukan di kolamair tenang, keramba jaring apung dan tambakbersalinitas DAN METODEIkan UjiSpesies ikan uji yang digunakan dalam penelitianini adalah ikan patin siam Pangasianodonhypophthalmus, ikan patin jambal Pangasius djambal,dan ikan patin pasupati yang merupakan hasilpersilangan antara ikan patin siam betina dengan ikanpatin jambal jantan. Ikan diperoleh dari Balai RisetPemuliaan Ikan di Sukamandi. Ukuran ikan yangdigunakan sekitar 20 PercobaanEvaluasi pertumbuhan ketiga spesies ikan patindilakukan di tiga kondisi yang berbeda, yaitu kolamair tenang air tawar, tambak bersalinitas 3,9-7g/L, dan keramba jaring apung. Kolam air tenangdilengkapi saluran pemasukan air dengan debit 0,2-0,5 L/detik yang digunakan berlokasi di Balai RisetPemuliaan Ikan Sukamandi, Jawa Barat. Tambakbersalinitas yang digunakan berlokasi di KecamatanBelanakan Kabupaten Subang, Jawa Barat dan Lokasikeramba jaring apung berada di Waduk DarmaKuningan, Jawa Barat. Kondisi lingkungan pada ketigalokasi tersebut disajikan pada Tabel PakanSelama pemeliharaan, ikan diberi pakan berupapelet komersial dengan kadar protein 30%–32%. Jumlahpakan yang diberikan pada bulan kesatu sampaikeempat adalah sebanyak 5%–3% dari biomassa ikanper hari. Pakan diberikan dengan frekuensi tiga yang diamati selama penelitianberlangsung adalah pertumbuhan, konversi pakan, dansintasan. Laju pertumbuhan spesifik, konversi pakan,dan sintasan dihitung dengan menggunakan rumus Copyright 2017, Jurnal Riset Akuakultur, e-ISSN 2502-6534 255Jurnal Riset Akuakultur, 12 3, 2017, 253-261Laju pertumbuhan spesifik Castell & Tiews, 1980Konversi pakan NRC, 1977KP = Konversi pakanWt = Bobot total ikan pada akhir penelitian gWo = Bobot total ikan pada awal penelitian gD = Bobot total ikan yang mati selama penelitian gSintasan SRAnalisis DataData yang diperoleh dalam penelitian iniditampilkan dalam bentuk grafik dan tabel. Untukmengetahui pengaruh lingkungan, jenis ikan patin, danada/tidaknya interaksi antara lingkungan dan spesiesyang berbeda terhadap pertumbuhan, konversi pakanFCR, dan sintasan maka dilakukan analisis variansiANOVA berdasarkan Uji-F. Analisis variansi dilakukandengan menggunakan program SPSS versi 19. Jikaterdapat perbedaan yang signifikan antar perlakuanpada taraf selang kepercayaan 95%, maka dilakukanuji lanjut menggunakan uji beda nyata terkecil LSD,least significant differences untuk menilai adanyaperbedaan signifikan antar DAN BAHASANPertumbuhanFenotipe pada ikan tergantung kepada genotipe,lingkungan, dan interaksi antara genotipe danlingkungan. Respons spesifik terhadap lingkungan yangberagam mengakibatkan adanya interaksi antaragenotipe dan lingkungan GxL, pengaruh interaksiyang besar secara langsung akan mengurangikontribusi dari genetik dalam penampilan akhirGomez & Gomez, 1985. Uji daya adaptasi dari tigaspesies ikan patin pada beberapa lokasi perlu dilakukanuntuk mengetahui sifat-sifat unggul dari setiapspesies. Berdasarkan Tabel 2, nilai signifikansilingkungan, spesies, dan interaksi lingkungan xspesies menunjukkan angka 0,000 atau 0,05The value followed by the same superscript letters in the same line did not significantly different P> EnvironmentSpesies ikan patin Species of pangasiid Tabel 3. Laju pertumbuhan spesifik %/hari tiga spesies ikan patin pada lingkunganyang berbeda selama 4 bulan pemeliharaanTable 3. Specific growth rate %/day of three species of pangasiid on different environmentcondition during 4 months of rearing Copyright 2017, Jurnal Riset Akuakultur, e-ISSN 2502-6534 257Jurnal Riset Akuakultur, 12 3, 2017, 253-261karena kondisi lingkungan budidaya di KJA yang relatifsama dengan kondisi habitat asli ikan patin jambal dialam yaitu di sungai-sungai besar yang memiliki arusyang relatif kuat dan kedalaman yang stabil sehinggaberakibat pada kadar oksigen terlarut dalam kisaranoptimal 3,6-8 mg/L dan fluktuasi suhu air yang relatifkecil. Menurut Slembrouck et al. 2005, habitatPangasius jambal hidup di sungai-sungai besar di PulauJawa, Sumatera, dan Kalimantan yang secara umumkondisi perairannya memiliki arus yang kuat dankedalaman yang stabil. Demikian juga dilaporkanbahwa pemeliharaan di keramba, benih ikan atau indukpatin jambal memperlihatkan tingkat pertumbuhanyang lebih tinggi daripada ikan patin siam. Organismedengan kualitas genetik yang baik akan menghasilkanpenampilan fenotipe yang optimal jika didukung olehlingkungan yang sesuai dengan kebutuhan organismetersebut. Namun demikian, organisme dengan kualitasgenetik yang rendah tidak akan menghasilkanpenampilan fenotipe optimal meskipun kualitaslingkungannya diperbaiki Tave, 1996; Noor, 2000.Pemilihan spesies ikan patin yang tepat untukdikembangkan pada lokasi yang spesifik akanmemengaruhi produktivitas. Pemahaman interaksigenotipe x lingkungan sangat diperlukan untukmengidentifikasi genotipe yang hasilnya tinggi padalingkungan spesifik atau stabil pada lingkungan yangluas. Pemilihan genotipe untuk lingkungan spesifikdidasarkan pada nilai duga interaksi suatu genotipe xlingkungan yang nyata menggambarkan kemampuansuatu genotipe mengekspresikan sebagian besar gen-gen yang menguntungkan pada lingkungan tertentusehingga memberikan hasil yang tinggi. Dengandemikian, interaksi genotipe x lingkunganmenentukan ekspresi gen terhadap keragaan suatukarakter Sujiprihati et al., 2006; Abdulai et al., 2007.Demikian juga jika dicermati pada ketiga spesies ikanpatin yang dipelihara di tambak cenderung memilikinilai laju pertumbuhan yang relatif tinggi Tabel 3, halini menunjukkan bahwa lingkungan budidaya yangbersalinitas memberikan efek yang positif terhadappeningkatan laju pertumbuhan ikan. Setiawati danSuprayudi 2003 dari hasil penelitiannya melaporkanbahwa ikan nila merah yang dipelihara pada mediabersalinitas menunjukkan adanya perbedaan lajupertumbuhan spesifik yang lebih baik P0,05, namun demikian berpengaruh terhadaplaju pertumbuhan serupa dilaporkan Tahapari 2013 bahwanilai rasio konversi pakan pada pembesaran ikan patinSiam dan Pasupati yang dipelihara di kolam air tawardan di tambak salinitas rendah 0,05The value followed by the same superscript in the same coloumn did not significantly different P> EnvironmentSpesies ikan patin Species of pangasiid Copyright 2017, Jurnal Riset Akuakultur, e-ISSN 2502-6534 259Jurnal Riset Akuakultur, 12 3, 2017, 253-261plankton; 5,9% saresah tumbuhan; 50,10% moluska;5,96% pelet dan 23,19% detritus Tahapari, 2013.Informasi ini memberikan gambaran bahwa pakan alamimemberikan kontribusi yang relatif efektif dalammendukung pertumbuhan ikan patin dan dapatmenekan nilai konversi pakanTahapari, 2013.SintasanBerdasarkan Tabel 6, nilai signifikansi lingkungan,spesies, dan interaksi lingkungan x spesiesmenunjukkan angka > 0,05 alfa yang berarti bahwalingkungan, spesies, dan interaksi lingkungan xspesies tidak berpengaruh secara signifikan Tabel 7, sintasan selama penelitianberkisar antara 78,67-98,33%. Hasil analisis sidik ragammenunjukkan pengaruh yang tidak nyata antar spesiesterhadap lingkungan yang berbeda P>0,05. Hasil yangdiperoleh pada penelitian ini tidak jauh berbeda denganyang dilaporkan Tahapari et al. 2016 bahwa sintasanpada pemeliharaan ikan patin Siam dan Pasupati ditambak dengan salinitas 1-8 ppt berkisar antara 90,67-97,67%. Tingkat sintasan ikan selama pemeliharaantergolong baik. Menurut Fatimah 1992 dalam Murjani2011, bahwa sintasan ikan sangat bergantung padadaya adaptasi ikan terhadap makanan dan lingkungan,status kesehatan ikan, padat tebar, dan kualitas airyang cukup untuk mendukung ikan patin siam, patin jambal, danpatin pasupati secara signifikan dipengaruhi olehfaktor genotipe, lingkungan, dan interaksi antaragenotipe dan lingkungan. Ikan patin jambal tumbuhdengan baik jika dipelihara di keramba jaring apungKJA dengan laju pertumbuhan spesifik LPS2,51±0,15%. Ikan patin pasupati tumbuh dengan baikjika dipelihara di kolam air tenang KAT dengan LPS2,05±0,03%. Ikan patin siam tumbuh dengan baik jikadipelihara di kolam air tenang dan tambak dengan LPS2,02±0,05% dan 2,31±0,09%. Tingkat konversi pakansangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. KonversiTabel 6. Analisis variansi pengaruh lingkungan, spesies, dan interaksi lingkungan x spesiesterhadap terhadap sintasanTable 6. Analysis of the variance of environment, species, and environment x species interaction impacton survival rateTabel 7. Sintasan % tiga spesies ikan patin pada lingkungan yang berbeda selama 4 bulanpemeliharaanTable 7. Survival rate % of three species of pangasiid in different environment during 4 months ofrearingJumlah kuadrat df Rataan kuadrat F Sig. Sum of squares df Mean square F Environment 2 .052Spesies Species 2 .258Interaksi lingkungan x spesiesInteraction environment x 4 .399Galat Error 18 koreksi Corrected total 26Sumber Sourcea. R2 = R Squared = .441 Adjusted R Squared = .193Siam Jambal PasupatiKolam air tenang Stagnant water pond Brackishwater pond jaring apung Floating net cage yang diikuti huruf superskrip yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata P>0,05The value followed by the same superscript in the same coloumn did not significantly different P> EnvironmentSpesies ikan patin Species of pangasiid 260 Copyright 2017, Jurnal Riset Akuakultur, e-ISSN 2502-6534Daya adaptasi tiga spesies ikan patin pada lingkungan yang berbeda Evi Tahaparipakan pada ikan patin jambal lebih rendah apabiladipelihara di tambak 1,42±0,15 atau keramba jaringapung 1,33±0,06. Konversi pakan ikan patin pasupatiyang dipelihara di tambak 1,61±0,12 atau kolam airtenang 1,68±0,09 relatif lebih rendah. Pada ikanpatin siam, konversi pakan di tambak lebih rendah1,35±0,11 jika dibandingkan dipelihara di KJA danKAT. Sintasan pada tiga spesies ikan patin tidakdipengaruhi oleh lingkungan, spesies, dan interaksilingkungan x spesies. Ketiga spesies ikan patinmempunyai daya adaptasi lingkungan yang sempitsehingga budidayanya akan optimal jika dilakukan dilokasi tertentu TERIMA KASIHPenulis menyampaikan rasa terima kasih danpenghargaan yang setulus-tulusnya kepada para teknisikomoditas patin Balai Riset Pemuliaan Ikan,Sukamandi dan pihak-pihak yang terlibat selamakoleksi data maupun dalam penyelesaian makalah ACUANAbdulai, Sallah, & Safo-Kantanka, O.2007. Maize grain yield stability analysis in fullseason lowland maize in Ghana. Int. J. Agri. Biol.,91, D., Robisalmi, A., & Fajarwati, D. 2011.Evaluasi daya tahan larva ikan nila Oreochromisniloticus pada media bersalinitas pp. 37-43.Surabaya, Prosiding Seminar Nasional Kelautan D. & Listiyowati, N. 2015. Interaksigenotipe dengan lingkungan, adaptabilitas, danstabilitas penampilan fenotipik empat varietasunggul ikan nila Oreochromis niloticus. Jurnal RisetAkuakultur, 101, D. & Muslikhin. 2011. Performance of redtilapia in three different levels of salinity. Ind. 62, & Tiews, K. 1980. Report of the EIFAC,IUNS and ICES Working Group on the standardiza-tion of methodology in fish nutrition research Germany, EIFAC & Russel, 1966. Stability param-eters for comparing varieties. Crop Sci., 6, 1989. Introduction to quantitative genet-ics p. 438. New York John Willey and Sons. Inc..Gomez, & Gomez, 1985. Statistical proce-dures for agricultural research p. 680. Canada JohnWilley & Sons, R., Sudarto., & Pouyaud, L. 2003.Bagaimana Mengenali Patin Jambal. Dalam PetunjukTeknis Pembenihan Ikan Patin Indonesia, PangasiusLin, & Binns, 1988. A Method of AnalysingCultivar x Locations x Year Experiment A NewStability Parameter. Theor. Appl. Genet. 76, N., Ariyanto, D., & Kusrini, E. 2008.Keragaman pertumbuhan beberapa strain tilapiapada beberapa lingkungan budidaya pp. 63-66.Pusat Riset Perikanan Budidaya, Jakarta. ProsidingTeknologi Perikanan 2006. Dokumen usulan pelepasan patinhibrida 14 hlm. Sukamandi Loka Riset Pemuliaandan Teknologi Budidaya Perikanan Air Olesen, I., Odegard, J., Kolstad, K., & Dan, 2008. Genotype by environment interac-tion for harvest body weight and survival of niletilapia Oreochromis niloticus in brackiswater andfreshwater ponds. International Symposium onTilapia in Aquaculture, p. A. 2011. Budidaya beberapa varietas ikansepat rawa Trichogaster trichopterus Pall denganpemberian pakan komersial. Jurnal Fish Scientiae,12, 214– Research Council NRC. 1977. Nutrient Re-quirement of Warmwater Fishes p. 78. National Aca-demic Press. Washington 1981. A modified prosedure for identify-ing varietal stability. Agric. Sci., 34, 2000. Genetika ternak p. 200. JakartaPenebar & Jinks, 1968. Environmental andGenotype-Environmental Component of Varia-bility. III. Multiple Lines and Crosses. Heredity,23, A., Setyawan, P., & Listiyowati, N. 2011.Keragaan pertumbuhan benih dua persilangan ikannila Oreochromis sp. pada media bersalinitas Surabaya, Prosiding Seminar NasionalKelautan P., Kause, A., Mulder, Martin, Parsons, Davidson, J., Rexroar, van Arendonk, & Komen, H. 2013.Genotype-by-environment interaction of growthtraits in rainbow trout Oncorhynchus mykiss acontinental scale study. Journal of Animal Science,91, J., Komarudin, O., Maskur., & Legendre,M. 2005. Petunjuk Teknis Pembenihan Ikan PatinIndonesia, Pangasius djambal p. 143. JakartaKerjasama IRD dan Pusat Riset Perikanan Riset Kelautan dan S., Azrai M., & Yuliandry, A. 2006.Keragaan genotipe jagung bermutu protein tinggiQPM di dua tipologi lahan yang 112, p. 3-14, IRD-DKP. Copyright 2017, Jurnal Riset Akuakultur, e-ISSN 2502-6534 261Jurnal Riset Akuakultur, 12 3, 2017, 253-261Sutrisno. 2008. Penentuan Salinitas Air dan JenisPakan Alami Yang Tepat dalam Pemeliharaan BenihIkan Sidat Anguilla Bicolor. Jurnal Akuakultur In-donesia, 71, 71– M. & Suprayudi, 2003. Pertumbuhandan efisiensi pakan ikan nila merah Oreochromissp. yang dipelihara pada media bersalinitas. JurnalAkuakultur Indonesia, 21, 27– 1979. Principle of Warmwater Aquacul-ture p. 375. New York John Willey and Sons E. 2013. Pembesaran Ikan Patin Siam danPasupati pada Media Pemeliharaan Berbeda p. 1-5.Yogjakarta, Prosiding Seminar Nasional TahunanX Hasil Penelitian Kelautan dan Perikanan, Jilid I,Budidaya E., Darmawan, J., Nurlaela, I., Pamungkas,W., & Marnis, H. 2016. Performa ikan patin hibridaPasupati pangasiid dari induk terseleksi padasistem budidaya berbeda. Jurnal Riset Akuakultur,111, D. 1996. Selective breeding programmes for me-dium sized fish farm p. 121. W., Hunt, Sheng, Q., & Szlavnies, Z. 2000.Cultivar evaluation and mega-environment inves-tigation based on GGE biplot. Crop. Sci., 40,597-605. ... Menurut Tahapari et al. 2017, pada ikan patin yang dipelihara pada lingkungan ekosistem berbeda mengakibatkan keragaman pertumbuhan dan tampilan fenotipe yang bervariasi, hal ini disebabkan respons genotipe dari tiap ikan yang tidak sama. Daya adaptasi Tabel 5. Jarak genetik tiga populasi ikan rainbow Ajamaru alam dan budiaya berdasarkan jarak Wright's 1978 modifikasi Roger's 1972 ikan dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan, dan interaksi antara genetik dan lingkungan. ...... Produktivitas yang berbeda dihasilkan dari pemeliharaan ikan pada lokasi budidaya yang berbeda akibat adanya kondisi geografis, agroklimatologis, dan teknologi budidaya yang digunakan. Perbedaan tersebut menimbulkan respons genotipe yang berbeda sehingga dapat menghasilkan fenotipe yang berbeda juga, hal inilah yang menyebabkan keragaman genetik yang tinggi pada lokasi budidaya yang berbeda Ariyanto et al., 2011;Kusmini et al., 2015;Lante et al., 2012;Tahapari et al., 2017. Pada ikan rainbow Ajamaru yang dipelihara pada lingkungan berbeda menghasilkan keragaman genotipe yang berbeda karena respons genotipe dari tiap individu dan daya adaptasi ikan berbeda-beda. ...Ikan rainbow Ajamaru Melanotaenia ajamarunensis yang dinyatakan punah pada tahun 1996 merupakan ikan endemik dari Danau Ajamaru, Papua. Namun ikan ini berhasil ditemukan kembali pada tahun 2007 di Sungai Kaliwensi, Sorong, Papua. Domestikasi ex-situ ikan rainbow Ajamaru sedang dilakukan di Balai Riset Budidaya ikan Hias, Depok-Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi perbedaan genotipe ikan rainbow Ajamaru di alam dan budidaya melalui analisis keragaman genetik untuk melihat adanya perubahan genetik, migrasi maupun mutasi gen. Metode yang digunakan adalah Randomly Amplified Polymorphic DNA RAPD dengan 3 jenis primer OPA 03, OPB 6, dan OPZ 5. Setiap populasi baik, dari alam Papua maupun budidaya Depok dan Papua masing-masing diambil secara acak sebanyak 10 sampel ikan uji. Hasil penelitian menunjukkan nilai keragaman genetik pada ikan di alam lebih rendah 62,5% dibanding ikan budidaya di Papua 70,31% dan tertinggi pada ikan budidaya di Depok 73,43%. Heterozigositas pada ikan di alam lebih rendah 0,172 dibanding ikan budidaya di Papua 0,241 dan di Depok 0,270. Jarak genetik terjauh ditunjukkan antara populasi ikan alam dan populasi ikan budidaya Papua, sedangkan jarak genetik terdekat antara populasi ikan budidaya di Papua dengan di Depok. Karakter genotipe yang dihasilkan pada tiga populasi ikan rainbow Ajamaru adalah memiliki corak DNA yang berbeda nyata P<0,05. Perbedaan yang dihasilkan dari karakter genotipe karena respon genotip dari tiap individu dan daya adaptasi ikan berbeda-beda pada habitat yang rainbow, an endemic fish from Lake Ajamaru, Papua, once declared extinct in 1996. However, it was rediscovered in 2007, in Kaliwensi River, Sorong, Papua. Currently, the Ajamaru rainbow fish is being domesticated ex-situ at the Research Center for Ornamental Fish Culture, Depok, West Java. The aim of the research was to determine the genotype characteristics of wild and cultured Ajamaru rainbow including genetic change, drift, migration, and mutation using genetic variance analysis. The genetic analysis applied was Randomly Amplified Polymorphic DNA RAPD using OPA-03, OPB-6, and OPZ-5 primers. Ten samples were used for each population. The results showed that the three populations of Ajamaru rainbow fish have significantly different P< of DNA polymorphism. The lowest value of genetic variance was found in the wild fish followed by the cultured fish located in Papua and the highest was observed in the cultured fish located in Depok Heterozygosity of the wild fish was lower than that of the cultured fish in Papua and in Depok The high genetic distance was found between the wild and cultured fish from Papua. The closest relationship was between the fish culture in Papua and Depok. The genotype character produced in the three Ajamaru rainbow fish populations was have significantly different P< of DNA polymorphism. The differences that result form genotype characters because of the genotypic response of each individual and the adaptability of fish vary in different Kajian status beberapa sumberdaya ikan ekonomis penting dan tingkat keberlanjutannya serta pelaksanaan indikator-indikator EAFM berdasarkan prinsip Marine Stewardshi Council MSC di Maluku merupakan gabungan dari beberapa studi yang dilaukan antara 2013-2018 di beberapa daerah kabupaten di Propinsi Maluku. Studi ini bertujuan untuk melihat status keberlanjutan sumberdaya ikan ekonomis penting yang dieksploitasi nelayan serta implementasi pelaksanaan prinsip-prinsip pegelolaan perikanan berkelanjutan. Status perikanan dianalisis menggunakan pendekatan CPUE, sementara tingakt keberlanjutan dianalisis dengan pendakatan Rapfish, sementara pelaksanaan indikator EAFM dilakukan secara statistic deskriptif. Hasil pengkajian status stoksumberdaya ikan untuk beberapa wilayah studi menunjukan indiksi lebih tangkap dengan CPUE yang cendrung menurun. Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata total status keberlanjutan adalah sebesar 52,05% dari skala keberlanjutan 100% dan tergolong kurang berlanjut. Dimensi ekologi memiliki status keberlanjutan rata-rata tertingii 62,91% dan masuk kategori cukup berlanjut sementara dimensi kelembagaan memiliki rata-rata terendah 35,53% dan tergolong kurang berlanjut. Hampir seluruh indikator EAFM menurut MSC tidak dilakukan dengan baik bahkan ada yang tidak dilakuka sama sekali. Kata kunci status keberlanjutan, sumber daya ikan, pendekatan sistem lingkungan ABSTRACT An analysis of the stock status, sustainability, and the implementation of EAFM indicators based on MSC principles of some economic importance fisheries at Maluku Province was a grouping of several studies conducted between 2013 to 2018. Stock status was analyzed based on the CPUE approach whilst sustainability status was analyzed using a rapid appraisal to fisheries Rapfis, and EAFM indicators implementation was analyzed based on descriptive statistics. The study shows that some coral reef fishes stock was at overfishing status with the CPUE tend to decrease from time to time. The mean overall sustainability status was on the 100% sustainability scale. The ecological dimension has the highest sustainability scale from 100% sustainability scale and was considered fair sustain, whereas institutional dimension having the lowest sustainable scale and was considered less sustain. Almost no implementation of the EAFM indicator based on MSC principles, some are even not implemented at all. BB PENDAHULUAN Propinsi Maluku sejak lama dikenal sebagai propinsi seribu pulau dan merupakan salah satu satu propinsi di kawasan Timur Negara Republik Indonesia. Sebagai wilayah kepuluan Propinsi Maluku secara geografis berada sebagian di wilayah Barat. Sementara dibagian timur berbatasan dengan Papua, selanjutnya disebelah selatan menjadi penghubung wilayah Negara Australia dan Timor Leste, sedangkan pada bagian utara berbatasan dengan Propinsi Hal lain yang menjadikan propinsi ini memiliki posisi strategis karena berada pada jalur lintas internasional yaitu dilalui oleh 3 tiga Alur Laut Kepulaun Indonesia ALKI. Didik AriyantoNunuk ListiyowatiPenampilan fenotipik suatu organisme ditentukan oleh faktor genetik dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan tempat organisme tersebut hidup. Dalam beberapa kasus, interaksi antara faktor genetik dengan lingkungan juga berpengaruh terhadap penampilan fenotipik yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari interaksi antara faktor genetik dengan lingkungan, daya adaptabilitas dan stabilitas penampilan fenotipik khususnya bobot individu pada empat varietas unggul ikan nila yang dipelihara di tiga lokasi berbeda. Ikan nila varietas GMT, merah NIFI, NIRWANA dan BEST dipelihara di tambak payau di Indramayu, kolam air tenang di Sukamandi dan karamba jaring apung di Waduk Cirata, Kabupaten Cianjur, selama empat bulan pemeliharaan. Benih ikan nila diberi pakan pelet komersial dengan kandungan protein kasar 28%-30%, sebanyak 10%; 7,5%; 5%; dan 2,5% dari biomassa ikan masing-masing pada bulan pertama, kedua, ketiga, dan keempat. Pakan diberikan dengan frekuensi dua kali setiap hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot ikan nila secara nyata dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan, serta interaksi antara kedua faktor tersebut. Selain ikan nila GMT, tiga varietas ikan nila yang diuji mempunyai adaptabilitas lingkungan relatif sempit, serta stabilitas penampilan fenotipik karakter bobot individu relatif rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa pengembangan budidaya ikan nila GMT dapat dilakukan di semua lokasi, sedangkan ikan nila merah NIFI, NIRWANA, dan BEST akan optimal jika dilakukan di lokasi tertentu saja. Phenotypic performance was determined by genetic and environment factors and their interaction. This study was conducted to examinethe present of interaction both of genetic and environment factors, adaptability, and stability of phenotypic performance of four varieties of tilapia which maintained in three different location. GMT, red NIFI, NIRWANA, and BEST tilapia strains were reared for four months in net cages in Cirata reservoir in Cianjur, in earthen ponds in Sukamandi and in brackish water ponds in Indramayu. All fish were fed with commercial pelleted feed contained of crude protein 28%-30%, about 10%, 5%, and each day in 1st, 2nd, 3rd, and 4th month, respectively. The results showed that tilapia’s phenotipic performance especially the average body weight was significantly affected by genetic factor, environment factor, and interaction both of them factors. Except the GMT, all tilapia strains used in this study have narrow phenotypic adaptability and stability, especially in average body weight. This results indicated that GMT tilapia strain can be farmed in various areas, but red NIFI, NIRWANA, and BEST tilapia strains are most likely in a specific location. Akhmad MurjaniTujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kecepatan pertumbuhan dan kelangsungan hidup tiga jenis ikan gurami Trichogaster trichopterus, Pall di rawa monoton, rawa pasang surut, dan rawa tadah hujan yang dipelihara di hapa Galam. Tiga jenis ikan gurami Trichogaster trichopterus, Pall mampu hidup dan beradaptasi di lingkungan budidaya, dan dapat diberi makan dengan pakan buatan seperti ikan budaya. Variasi jenis ikan tidak signifikan mempengaruhi pertumbuhan rawa dan kelangsungan hidup ikan yang dipelihara di lingkungan budidaya rawa. Tingkat pertumbuhan berat rata-rata relatif terbaik adalah perlakuan C ikan gurami rawa tadah hujan sebesar Tingkat pertumbuhan pangjang rata-rata relatif terbaik adalah perlakuan B Ikan gurami padang rumput rawa sebesar 9,35%. Konversi pakan terbaik terdapat pada perlakuan C ikan gurami dari tadah hujan sebesar Tingkat keangsungan hidup terbaik terdapat pada perlakuan B, C, D yaitu sebesar The purpose of this study was to determine the speed of growth and survival of several varieties of three spot goramy Trichogaster trichopterus Pall from the monotonous marshes, tidal marshes, bogs and swamps rainfed fields that are kept in hapa Galam. Three spot goramy Trichogaster trichopterus Pall are able to live and adapt in the cultivation environment, and can be fed with artificial feed like most culture fish. Variations in the type of fishes did not significantly affect marsh growth and survival of fish that are kept in swamp ride cultivation environment. The mean relative growth rate of weight it is best to treatment C fish from the marsh three spot goramy rainfed of Average growth rate is relatively long it is best to treatment B three spot goramy of marsh meadow Galam for %. Conversion is best to feed on the C treatment fish from the marsh three spot goramy rainfed of the best survival was in treatment B, C, D of TahapariJadmiko DarmawanIka Nurlaela Huria MarnisPada segmen pembenihan, ikan patin Pasupati II hasil hibridisasi antara ikan patin Siam betina dan ikan patin Jambal jantan menunjukkan performa terbaik dibandingkan ikan patin Pasupati l, dan patin Siam ini bertujuan untuk menguji performa ikan patin Pasupati II pada segmen pembesaran yang dilakukan di kolam air tenang KAT berukuran 50 m2, dan di jaring berukuran 5 m x 3 m x 1,5 m yang dipasang di tambak air payau TAP, salinitas < 10 ppt. Ikan uji yang digunakan adalah ikan patin Pasupati II, Pasupati I, dan patin Siam F-1 dengan bobot awal di KAT 11,1-16,1 g/ekor, dan di TAP 21,3-32,5 g/ekor. Sebanyak dua KAT, dan dua jaring di TAP digunakan untuk setiap kelompok ikan. Parameter yang diamati meliputi pertambahan bobot dan panjang harian, konversi pakan, sintasan, kualitas air pemeliharaan, dan konsentrasi hormon Insuline-like Growth Factor IGF-I pada plasma darah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa performa ikan patin Siam F-1 pada parameter pertambahan bobot memberikan yang terbaik P<0,05 dibandingkan patin Pasupati I dan II yang dipelihara di KAT dan di TAP. Kemudian performa pertambahan bobot ikan patin Pasupati II lebih baik P<0,05 daripada patin Pasupati I yang dipelihara di TAP. Hasil analisis ELISA pada beberapa ikan uji yang dipelihara di KAT menunjukkan bahwa konsentrasi hormon IGF- 1 tertinggi terdapat pada ikan patin siam F-1 4,48 ± 0,81 ng/mL, kemudian diikuti oleh patin Pasupati II 3,96 ± 0,51 ng/mL; dan terendah pada ikan patin Pasupati I 3,93 ± 0,54 ng/mL. Jika dicermati dari data pertumbuhan dan konsentrasi hormon IGF-1 ikan uji ternyata terdapat korelasi yang positif antara pertumbuhan ikan dengan konsentrasi hormon IGF-1, semakin tinggi tingkat pertumbuhan ikan maka semakin tinggi konsentrasi hormon IGF-1 pada ikan thenursery, Pasupati II catfish hybrid of female Siamese catfish and male Jambal catfish showed the best performance compared to Pasupati I catfish and Siam catfish F-1 generation. The aim of this study was to test performance of Pasupati II on grow out segment in freshwater pond KAT measure 50 m2 and in net cage measure 3 m x 5 m x m which settled in brackishwater pond TAP, salinity < 10 ppt. The fish that used were Pasupati II, Pasupati I, and Siam catfish F-1 with body weight of g/fish in KAT, and g/fish in TAP. A total of two KAT, and two TAP were used for each group of fish. Parameters observed were included daily body weight and length, feed conversion ratio FCR, survival rate, water quality, and concentration of insulin-like growth factor IGF-1 hormone on plasma. The results showed that the performance of Siamese catfish F-1 growth parameters give the best weight gain P< than catfish Pasupati I and II were maintained at KAT and TAP. Then the weight gain performance catfish Pasupati II was better P< than that of catfish Pasupati I reared in TAP. Results of ELISA analysis on some of the fish that are reared in the KAT were showed that the concentration of the hormone IGF-1 was highest in F-1 Siamese catfish ± ng/mL, followed by Pasupati catfish II ± ng/mL and the lowest in the Pasupati catfish I ± ng/mL. When the data of growth and IGF-1 hormone concentrations in the tested fish was examined there was a positive correlation, the higher the growth rate of the fish followed the higher concentration of the IGF-1 hormone in the test fish. Didik AriyantoMuslikhin MuslikhinTilapias are indigeneous species to Africa, but interest in their aquaculture potential has led to nearly worldwide distribution of the species within the past fifty years. The most popular species of tilapias cultured in the world is Oreochromis niloticus. Red tilapia, one of tilapia varieties, is a highly valued commodity in global market. Based on this reason, red tilapia culture should be developed to supply the market demand. Tilapias can be culturred in brackishwater ponds due to its tolerant ability to saline water. This study was carried out to know the potential of tilapia especially the NIFI red tilapia cultured in saline water. The seeds of NIFI red tilapia were reared in three levels of salinity, 10, 20, and 30 ppt with 0 ppt as the control population. The experiment was conducted in wet laboratory for 56 days. The results showed that the difference of salinity level did not affect the performance of NIFI red tilapia, including specific growth rate, survival rate, total biomass, and food conversion ratios. Based on these results, it is suggested that NIFI red tilapia can be cultured in saline waters.
proses adaptasi ikan terhadap lingkungan disebut